Objek Wisata Air di Thailand

Berbelanja & Melancong di Sungai

DAMNOEN Saduak yang berjarak sekitar 100 kilometer dari Kota Bangkok merupakan salah satu pasar air yang paling banyak dikunjungi wisatawan, selain “floating market” Taling Chang, Bang Khu Wiang, Chao Phraya, Thonburi, dan lainnya.* RETNO HY/”PR

THAI Girl Show atau oleh wisatawan Indonesia –bahkan akhirnya diakui oleh masyarakat Thailand– dipelesetkan menjadi tiger show (tari telanjang), tentu bukan menjadi satu-satunya alasan mengapa turis datang ke Thailand. Demikian pula halnya dengan menyaksikan Tiffany Show, kabaret yang dimainkan para waria yang kulitnya lebih mulus daripada wanita Thailand di Pattaya.

Ada sejumlah pelosok di Thailand yang dapat dikunjungi dan menjadi daerah tujuan wisata. Salah satunya adalah wisata berbelanja di sungai yang lebih dikenal dengan floating market atau wisata air. Damnoen Saduak yang berjarak sekitar 100 kilometer dari Kota Bangkok dan Chao Phraya, merupakan dua sungai yang paling banyak disusuri wisatawan. Namun, ada juga floating market lainnya seperti Taling Chang, Bang Khu Wiang, Thonburi, dan lainnya.

Kenapa Damnoen Saduak? Suasana yang masih tradisional dengan kehidupan sehari-hari masyarakat di pinggiran sungai Saduak merupakan suatu hal yang menarik. Selain itu, perilaku pedagang saat menawarkan barang dagangan di atas sungai dengan menggunakan sampan, memaksa wisatawan untuk turut terlibat bertransaksi. Para pembeli tentunya harus menggunakan sampan juga dengan ongkos 100 bath (atau sekitar Rp 33.000,oo, kurs 1 Bath Rp 330,00) per orang.

Ada banyak buah-buahan Thailand yang terkenal sangat besar-besar seperti jambu air, pepaya, pisang, jambu batu, dan lainnya yang ditawarkan. Demikian pula olahan buah-buahan untuk dijadikan oleh-oleh semisal keripik durian, manisan asam, buah longan kering, juhi pedas, serta khanom (kue-kue khas Thailand).

Selain makanan, sutra Thai, katun, nielloware, kerajinan dari perak, perunggu, dan keramik juga banyak ditawarkan. Termasuk makanan khas Thailand celadon dan pewter. Meski lama memilih dan menawar, para pedagang dengan menggunakan alat bantu kalkulator begitu sabar dan sopan melayani. Menurut Macharo, penyedia sampan, suasana floating market di Damnoen Saduak tidak pernah sepi oleh aktivitas warga. Pun dengan kunjungan wisatawan yang setiap harinya mencapai tidak kurang dari 500 orang.

Selain Damnoen Saduak, wisatawan juga dapat mengunjungi floating market di Sungai Chao Praya yang merupakan sungai terbesar di Thailand dan membelah negeri gajah putih ini. Sungai ini merupakan gabungan dari empat sungai yang terbentang dari utara ke selatan sepanjang 370 km melewati 10 provinsi di Thailand dan membelah Bangkok menjadi dua bagian, ibukota lama dan ibukota baru.

Menyisir sungai ini bisa menggunakan perahu dengan tarif 200 bath (sekitar Rp 66.000,00) per orang. Selain berbelanja, kita juga dapat mengunjungi situs wisata di sepanjang sungai. Salah satunya adalah Prangs of Wat Arun, kuil terbesar di Thailand. Seperti di Borobudur, pengunjung bisa menaiki kuil meski tidak sampai puncak. Dari ketinggian sekitar 25 meter, terpampang pemandangan indah pesisir Sungai Chao Praya.

Sekitar 1 km dari Wat Arun, kita memasuki kawasan floating market Chao Praya. Berbeda dengan di Damnoen Saduak, di sini jumlah pedagang berperahu lebih banyak. Dalam menjajakan dagangannya, mereka tidak hilir mudik atau di pinggiran sungai, tetapi ditengah-tengah sungai. Selain itu, para penjual sangat agresif menjajakan dagangannya. Begitu pera-hu wisatawan datang, mereka langsung mendekat dengan kecepatan tinggi.

Jika merasa tertarik, transaksi bisa langsung dilakukan. Jangan segan menawar karena harga yang ditawarkan lebih mahal dari pasar tradisional di Wat Arun. Sekitar 200 meter dari pasar terapung ke arah hulu Sungai Chao Phraya, perahu berhenti di depan sebuah kuil, The Temple of The Emerald Buddha. Di depan patung Buddha raksasa, memberi makan ikan patin menjadi suguhan atraksi bagi wisatawan.

Ya, pinggiran sungai di depan The Temple of The Emerald Buddha merupakan “rumahbagi ribuan ikan patin. Pemilik perahu menyediakan roti seharga 20 bath (Rp 6.600,00) sebagai makanan ikan. Begitu dilempar ke sungai, ikan-ikan patin bermunculan ke permukaan. Mereka berebut potongan roti tawar itu. Ukuran ikan-ikan itu beragam. Rata-rata sebesar lengan orang dewasa.

Menurut cerita, ikan-ikan itu memang dibiarkan hidup. Warga sekitar memegang teguh kepercayaan untuk tidak menangkap, apalagi makan ikan patin tersebut. “Ada cerita, dulu ada warga yang makan ikan ini. Tapi, satu keluarga kemudian sakit,” ujar Angnuh.

Prosesi memberi makan ikan patin ini termasuk yang digandrungi wisatawan ketika di Bangkok. Agen wisata pun menjadikannya sebagai tujuan wajib bagi wisatawan. Dari Sungai Chao Praya juga bisa menikmati indahnya The Majestic Grand Palace, istana Raja Thailand Bhumibol Adulyadej.

Bisnis wisata memang sudah mengaliri seluruh denyut kehidupan warga Thailand. Pemerintahnya pun tidak tanggung-tanggung dalam memberikan kemudahan dan sokongan. Belanja di atas sungai dan memberi makan ikan patin pun menjadi daya tarik bagi wisatawan. (Retno HY/”PR”)

read more : http://aingkumaha.blogspot.com/2008/05/objek-wisata-air-di-thailand.html

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: